Cak Sudi, Sastrawan Kopi Senja Indonesia

SUDIYANTO, akrab disapa Cak Sudi. Penyair, sastrawan Indonesia yang juga pencinta kopi, sejarah, sastra, dan kebudayaan ini kelahiran Sumenep, 9 Maret 1980 dan kini berdomisili di Bekasi. sebagai Penyair, sastrawan, dan budayawan Cak Sudi juga  aktif menjadi pendidik dan peneliti. Alumni Pascasarjana Unindra ini aktif di beberapa organisasi dan komunitas literasi, sejarah, sastra, dan kebudayaan. Sebagai Ketua Umum Pusaka (Purnama Sastra Loka) Nusantara, Pendiri dan Pembina Pusaka Bekasi dan Pusaka Madura, Anggota Jazirah Penyair Serumpun (Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam), Anggota Asosiasi Penyair Interkultural Asia, Anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Komite Sastra Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B), Ketua KKBK Kab. Bekasi, dan anggota Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN). Profil kepenyairannya tercatat sebagai Penyair Indonesia pada buku induk penyair “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” oleh Kemendikbud RI dan Yayasan Hari Puisi Indonesia. Tercatat sebagai International Ambassador of Peace dari UN-WLFPH. Cak Sudi juga mengelola beberapa Kelas Menulis Kreatif seperti Kelas Puisi, Kelas Cerpen, Kelas Novel, dan Kelas Biografi.

Cak Sudi juga aktif diundang dalam beragam gelaran perpuisian/kesusastraan nasional maupun internasional seperti: SISI, HPI, Numera, Mastera, Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi I, II, III), Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, Borobudur Writers and Cultural Festival, Intercultural Poetry of Asia, Pusaka Nusantara, dll.

Selain 11 buku tunggal nonfiksinya, ada beberapa karya buku fiksi tunggalnya seperti: Kumpulan cerpen “Kereta Terakhir” (2009), Kumpulan puisi “Selendang Kalijati” (2011), Novel “Benang Cahaya” (2013), Kumpulan cernak “Mengejar Layang-Layang” (2014), Kumpulan Puisi “Sore yang Menepi” (2015), Kumpulan puisi “Rindu yang Membiru” (2016), Kumpulan puisi “Sekalung Sorga” (2017), Kumpulan puisi “Sebait Senja” (2018), kumpulan puisi “Kopi Senja 1″ (2019), kumpulan puisi “Kopi Senja 2” (2020).

Disamping buku fiksi dan nonfiksi sebagai karya tunggalnya, terdapat juga beberapa buku fiksi antologi bersama seperti: Antologi cerpen bersama “Super Dad” (2013), antologi kisah inspiratif “Jejak-Jejak Mas Gagah #2” (2015 ), antologi puisi dan cerpen “700 Batang Cahaya” (2015), antologi puisi bersama “Nyanyian Untuk Ane Matahari” (2017), Antologi puisi bersama “Puisi-Puisi Munsi I” (2017), antologi puisi bersama untuk 80 tahun L.K. Ara “Jejak Kata” (2017), antologi puisi bersama peduli gempa Aceh “6,5 SR Luka Pidie Jaya” (2017), antologi puisi bersama “Jejak Cinta di Bumi Rafflesia” (2018), antologi puisi bersama 55 Penyair Indonesia “Skandal Sastra Undercover” (2018), antologi puisi bersama “Jazirah” (2018), antologi puisi bersama penyair empat negara “Segara Sakti Rantau Bertuah” (FSIGB, 2019), antologi puisi bersama penyair empat negara “Di Kaki Gunung Bintan” (FSIGB, 2019), antologi puisi bersama “Berbisik Pada Dunia” (HPI, 2020), antologi puisi bersama lumbung puisi sastrawan Indonesia “Perjalanan Merdeka” (LP, 2020), antologi puisi bersama penyair empat negara “Angin, Ombak, dan Gemuruh Rindu” (FSIGB, 2020), antologi puisi bersama penyair empat negara “Kembara Padang Lanun” (FSIGB, 2020), antologi puisi bersama “Pandemi Puisi” (DSJ, 2020), antologi puisi bersama penyair empat negara “Ombak, Camar, dan Kerinduan” (FSIGB, 2021). Selain dalam bentuk buku, beberapa cerpen dan puisinya juga tersebar di beberapa koran dan majalah Indonesia. Sampai hari ini Cak Sudi masih aktif menulis, membina kelas menulis, dan menjuri beragam lomba dan festival puisi dan cerpen.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *