GEOPARK TEBAT RASAU: JEJAK SUNGAI PURBA DAN INGATAN PANJANG SEBUAH PULAU

Disarikan dari Jurnal yang ditulis oleh: Dr. Ary Prihardhyanto Keim (Anggota PENA Nusantara/BRIN), Fithrorozi, ME. (Alm), Dr. Tukul Rameyo Adi (Anggota PENA Nusantara), dkk.

Di ujung timur Belitung, ada sebuah kawasan yang tampak tenang: Tebat Rasau. Sekilas ia hanya hamparan rawa, sungai, dan hutan tropis seperti banyak lanskap lain di Indonesia. Namun di balik ketenangan itu, Tebat Rasau menyimpan kisah panjang tentang zaman es, daratan purba, ikan-ikan langka, hingga pengetahuan lokal yang mendahului sains modern.

Belitung selama ini lebih dikenal sebagai pulau penghasil timah dan tujuan wisata bahari. Padahal, secara geologis, pulau ini adalah potongan penting dari sejarah Asia Tenggara. Ia merupakan pulau kontinental—bagian dari daratan tua yang dahulu menyatu dalam subbenua besar bernama Sundaland atau Paparan Sunda.

Sekitar 11.700 tahun lalu, pada akhir Zaman Es Pleistosen, permukaan laut dunia naik drastis akibat mencairnya es di belahan bumi utara. Daratan luas yang menghubungkan Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Belitung perlahan tenggelam. Yang tersisa adalah pulau-pulau yang kini kita kenal sebagai Kepulauan Melayu. Belitung adalah salah satunya—sebuah “puncak” daratan tinggi yang selamat dari genangan laut purba.

Menariknya, jejak penyatuan daratan itu tidak hanya terbaca dari batuan dan peta geologi, tetapi juga dari makhluk hidup yang masih berenang di perairan Tebat Rasau.

Penelitian menunjukkan keberadaan arwana Asia, Scleropages formosus, serta ikan buntal air tawar tidak beracun dari genus Pao yang menyerupai Pao hilgendorfii. Secara biogeografis, ikan-ikan ini lebih lazim ditemukan dalam sistem sungai Kalimantan daripada Sumatra bagian timur.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa pada masa lalu, sungai di Belitung pernah terhubung dengan sistem sungai besar di Kalimantan ketika semuanya masih menyatu dalam Sundaland. Sungai purba dari zaman Pleistosen itu kini mungkin telah terputus oleh laut, tetapi jejaknya tetap hidup melalui spesies yang bertahan.

Dalam konteks ini, ikan bukan sekadar fauna air tawar. Mereka adalah penanda sejarah—membawa memori ekologis ribuan tahun.

Yang lebih memikat, masyarakat Tebat Rasau ternyata telah lama memiliki keyakinan bahwa Belitung dulu menyatu dengan Kalimantan dan Sumatra. Keyakinan itu hidup dalam cerita dan pengamatan mereka terhadap jenis-jenis ikan yang ada di sungai.

Artinya, sebelum istilah “Sundaland” dikenal luas dalam literatur geologi, warga setempat sudah memiliki narasi sendiri tentang masa lalu pulau mereka. Di sinilah etnobiologi dan etnogeologi menemukan maknanya: pengetahuan lokal bukan sekadar folklor, melainkan hasil interaksi panjang manusia dengan alam sekitarnya.

Kesadaran historis inilah yang mendorong dukungan kuat masyarakat terhadap penetapan Tebat Rasau sebagai kawasan geopark nasional. Bagi mereka, kawasan ini bukan hanya lanskap, tetapi warisan.

Belitung juga menyimpan cerita yang jauh lebih tua daripada Zaman Es. Struktur geologinya didominasi sedimen dari periode Jura pada era Mesozoikum—masa ketika dinosaurus masih menguasai bumi. Batuan intrusifnya berasal dari Trias akhir hingga Jura awal, menjadikan pulau ini sebagai bagian dari daratan sangat tua.

Kekayaan geologi itu berkaitan erat dengan endapan timah yang melimpah. Sejak ditemukan pada 1851 oleh ahli geologi Belanda, Belitung bersama Bangka dikenal sebagai kawasan penghasil timah penting dunia. Industri ini membentuk wajah ekonomi pulau selama lebih dari satu abad, meski juga menyisakan tantangan lingkungan.

Kini, melalui gagasan geopark, Belitung perlahan menggeser narasi: dari eksploitasi sumber daya menuju pelestarian dan pemaknaan ulang bentang alamnya.

Keunikan Tebat Rasau tidak berhenti pada batu dan ikan. Dari kawasan ini pula lahir produk lokal seperti Teh Pelawan, yang dibuat dari daun pohon pelawan, Tristaniopsis merguensis. Tumbuhan ini tumbuh khas di tanah tertentu yang dipengaruhi kondisi geologi setempat.

Secangkir Teh Pelawan pada akhirnya bukan sekadar minuman herbal. Ia adalah contoh bagaimana geologi, keanekaragaman hayati, dan kearifan lokal saling terhubung—membentuk identitas sekaligus peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Geopark Tebat Rasau memperlihatkan bahwa memahami bumi tidak cukup hanya dengan membaca lapisan batuan. Kita juga perlu mendengar cerita masyarakat, mengamati pola hidup ikan, dan merasakan hubungan antara tanah dan tumbuhan.

Di Belitung Timur, masa lalu tidak sepenuhnya tenggelam bersama naiknya air laut ribuan tahun lalu. Ia masih mengalir di sungai-sungai kecil, tumbuh di hutan pelawan, dan hidup dalam ingatan warganya.

Tebat Rasau mengajarkan kita satu hal sederhana namun mendalam: bahwa alam menyimpan sejarah, dan manusia—jika cukup peka—mampu membacanya bahkan sebelum ilmu pengetahuan memberi nama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *