MANDATRAKYAT.COM, Hindustan – Ketegangan militer yang terus meningkat antara India dan Pakistan tak hanya mengancam stabilitas kawasan Asia Selatan, tetapi juga berpotensi mengguncang industri berlian global. Hal ini dilaporkan oleh RIA Novosti, yang menyoroti posisi strategis India sebagai pemain kunci dalam pasar permata internasional.
India dikenal sebagai importir sekaligus eksportir berlian terbesar dunia. Berdasarkan data dari Proses Kimberley — skema sertifikasi internasional untuk mencegah peredaran berlian konflik — serta Badan Statistik India, negara ini mendominasi pasar dengan membeli berlian kasar dan mengekspor batu mulia yang telah dipoles.
Pada tahun 2024, India mengimpor berlian senilai 17 miliar dolar AS, dengan sebagian besar berasal dari Uni Emirat Arab, AS, Hong Kong, Belgia, dan Rusia. Di sisi ekspor, India mencatatkan angka 14,4 miliar dolar, yang sebagian besar dikirim ke AS, Hong Kong, UEA, Belgia, dan Israel.
Namun, potensi gangguan terhadap rantai pasok dan distribusi global semakin nyata setelah India meluncurkan Operasi Sindoor, sebuah serangan militer terhadap dugaan infrastruktur teroris di wilayah Pakistan. Kementerian Pertahanan India mengklaim telah menewaskan 70 militan tanpa menyasar fasilitas militer Pakistan.
Sebaliknya, Pakistan melaporkan 26 korban jiwa dan 46 luka-luka akibat serangan tersebut. Media lokal juga menyebutkan bahwa lima jet tempur India berhasil ditembak jatuh oleh angkatan udara Pakistan.
Ketegangan ini dipicu oleh serangan di kawasan wisata Pahalgam, Jammu Kashmir, yang dikuasai India, pada 22 April lalu. Serangan tersebut menewaskan 26 orang dan diklaim oleh kelompok pemberontak The Resistance Front yang berbasis di Pakistan.
Jika konflik terus berlanjut, dunia tak hanya dihadapkan pada risiko keamanan, tetapi juga ketidakstabilan ekonomi akibat gangguan pasokan berlian dari India. Para pelaku industri pun mulai mewaspadai potensi lonjakan harga dan kelangkaan pasokan di pasar global.




