Perkokoh Kedaulatan Bangsa Melalui Pembangunan Pertanian

0

MandatRakyat.com – DPP Argonal menggelar diskusi bertajuk “Pengembangan Pertanian Rakyat Memperkokoh Kedaulatan Bangsa.” Pada Kamis (15/8/2019) di Kantor DPP Argonal jalan Wisma Jaya No.08, Rawamangun, Jakarta Timur.

Hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara tunggal, Dadung Hari Setyo yang sudah didaulat sebelumnya sebagai Dewan Pakar di Argonal. Dalam diskusi tersebut hadir juga para Pengurus Pusat Argonal dan DKI Jakarta.

Dalam sambutanya, Ketua Umum DPP Argonal, Drs. H.M. Djon Harro mengatakan bahwa Argonal adalah Ormas yang memiliki komitmen kerakyatan dan berbasis pengabidian yang jelas kepada rakyat.

“Oleh karena itu, Agronal sebelum menerjunkan program pertanian, sengaja membentuk forum kajian di awal, dan alhamduillah diskusi ini dapat terlaksana. Tentu hasil diskusi yang kami harapkan nanti segera terwujud program pertanian yang nyata. Kami sedang menyiapkan lokasi untuk pengembangan program tersebut di beberapa daerah dan diawali dari kabupaten sukabumi.” Ungkap Bang John, sapaan akrab Ketua Umum DPP Argonal dalam sambutannya.

Dalam diskusi tersebut pembicara tunggal yakni Dadung Hari Setyo selain sebagai Dewan Pakar Argonal, Dadung adalah Ketua Umum Komunitas Usaha Pertanian SUTA Nusantara, memaparkan bahwa pembangunan pertanian Indonesia sebernya sudah maju.

“Pembangunan pertanian di Indonesia kita ini sebenarnya sudah maju, akan tetapi negara lain lebih cepat kemajuannya di banding Indonesia. Seperti Philipina, Thailand yang lebih cepat kemajuannya dibanding kita. Apalagi dengan Vietnam yang tergolong negara yang baru merdeka, tapi kita kalah cepat dalam membangun pertanian dengannya.” Tutur Masda, panggilan akrab Dadung Hari Setyo dalam pemaparan materinya.

Problem yang tampak terlihat menurutnya adalah; Pertama, banyak kebijakan pertanian yang masih membelenggu inovasi dan kreativitas di bidang peetanian. Contoh kasus persoalan benih padi di Aceh kemarin dan benih jagung di Kediri beberapa tahun silam.

“Tentu kalau kita teliti secara detail, akan ketahuan kok kebijakan atau peraturan ini dibuat oleh siapa dan siapa yang diuntungkan dan yang dirugikan. Bukan hal yang tabu untuk melonggarkan dan menyempitkan kebijakan, itu pasti ada yang pesan.” Ungkap Masda.

Kedua, moralitas pelaku usaha pertanian. Banyaknya kasus gagalnya panen yang disebabkan kesalahan speksifikasi benih atau bibit, pupuk dan alat, serta mesin pertanian. Selain itu, di lapangan, dalam struktur tana niaga usaha pertanian, petani berada pada lapisan terbawah yang memiliki resiko usaha yang paling berat tapi keuntungannya paling kecil di banding lapisan di atasnya seperti tengkulak, pengempul dan pedahang dan pengusaha.

“Apalagi, petani saat ini sulit permodalannya. Kredit Usaha Rakya (KUR) di mata petani hanya halusinasi saja, karena kredit usaha rakyat harus menyertakan jaminan.” Tandasnya mengkritik sistem KUR yang harus menyertakan agunan.

Ketiga, penelitian dan pengembangan. Banyak hasil penelitian yang tidak tersosialisasi di masyarakat. Karena hal inilah kita hanya bisa meniru tapi kurang berinovasi.

“Sudah selayaknya hasil penelitian di ekspose, disosialisasikan dan di terapkan. Penelitian ini akan banyak membantu pembangunan pertanian di masyatakat. Karena itu, fungsi perguruan tinggi dalam hal penelitian harus difasilitasi, jangan sampai para ahli atau peneliti tersebut biaya pendidikannya dari Indonesia, tapi bekerjanya membangun negara orang lain. Ini bagian dari upaya mengokohkan kedaulatan bangsa melalui pertanian.” Tegas Masda.

Di akhir paparanya, Masda mengatakan bahwa pembangunan pertanian butuh solusi cepat, maka revolusi mental harus segera dijalankan di pertanian, yakni menjadi petani harus dari panggilan jiwa. Status petani harus ada standardisasi pendidikan dan pelatihan, petani harus punya kompetensi dan keuanggulan khusus.

“Dengan demikin, bukan hanya produk pertaniannya, tapi kita akan memiliki petani-petani yang unggul.” Pungkas Masda dalam pemaparannya sebelum kemudian berlanjut sesi tanya jawab dengan peserta yang hadir memenuhi ruangan.

Share.

About Author

Leave A Reply