Kopi Gayo yang Mendunia Kini Terancam

0

Mandatrakyat.com – Kopi Arabica Gayo sekarang sudah berusia lebih kurang satu abad lamanya. Kopi Arabica Gayo dikenal sebagai kopi terbaik di dunia, karena seluruh rasa kopi di dunia ada di Gayo. Produksi pertahun kopi Gayo sekitar 60.000 ton. Produksi kopi Gayo ini berasal dari tiga kabupaten di Aceh. Posisi kopi gayo ini berada di Kawasan ekosistem closer yang menjadi Kawasan paru-paru dunia. Kondisi terkini kopi gayo ini diekspor dengan tujuan utama ke Amerika Serikat sekitar 80% lebih. Posisi hari ini kopi Gayo menjadi kopi specialty.

Namun, dari sisi kebijakan pemerintah daerah hari ini kopi gayo belum mendapatkan kebijakan yang strategis. Pemerintah daerah terkesan belum mempunyai kebijakan yang kreatif yang menjadikan kopi gayo sebagai alat diplomasi dan alat penguatan hubungan internasional. Selama ini pemerintah daerah masih terkesan memanfaatkan kopi gayo apa adanya.

Dari sisi negara, kopi gayo ini menjadi penyumbang devisa negara sebesar kurang lebih 5 triliun. Dan dari sisi kekuatan keuangan rakyat, kopi Gayo ini lebih besar nilai keuangannya, sekitar 5 triliun pendapatannya per tahun mengalahkan anggaran pendapatan belanja daerah yang per kabupaten hanya sekitar 1,4 triliun per tahun.

“Kopi gayo mampu menggerakkan ekonomi rakyat sekitar 5 triliun per tahun, artinya kopi gayo sudah berdaulat. Menariknya lagi kopi gayo ini berada dalam pengelolaan rakyat, tidak ada perusahaan yang dominan menguasai lahan perkebunan kopi gayo. Dalam pengelolaannya, pasca panen dikelola dan dikembangkan oleh koperasi-koperasi yang menjadi eksportir. Koperasi-koperasi ini sudah memperoleh sertifikasi internasional. Namun kebijakan pemerintah daerah terkesan hanya setengah hati dalam mengembangkan kopi Gayo,” ungkap Zamzam Mubarok, Sahabat SUTA Nusantara Aceh.

Kopi Gayo hari ini sedang dikembangkan menjadi bagian dari objek wisata alam nasional. Kita mau mengelola dari hulu ke hilirnya. Sebenarnya, kopi Gayo ini sangat strategis sebagai alat diplomasi. Misalnya kita jadikan kopi Gayo ini sebagai pertukaran ekonomi dengan negara tertentu itu sangat berpeluang, apalagi kopi Gayo ini sudah dikenal dunia.

Selanjutnya dari sisi pengembangan, negara kita hari ini sudah mengembangkan dan mendirikan Resi Gudang di Aceh Tengah sebagai instrumen stabilitas perdagangan kopi untuk melakukan tunda jual.

Namun, hari ini instrumen Resi Gudang ini belum termanfaatkan dengan baik, karena dari sisi internal daerah yang belum mempunyai qanun/peraturan daerah tentang kopi.

Makanya Kopi Gayo sangat memprihatinkan kalau dibiarkan terus menerus, nanti bisa menjadi komoditi yang hanya tinggal legenda di kemudian hari, karena dari sisi pemasaran, produksi, dan budidaya itu lebih besar peran masyarakat dibanding peran yang dilakukan oleh pemerintah daerah saat ini.

Sudah sepantasnya pemerintah pusat menjadikan kopi Gayo ini bagian dari kepentingan ekonomi strategis nasional. Kita menyarankan agar kawasan kopi Gayo ini bisa dijadikan kawasan strategis nasional kopi. Karena kopi Gayo ini dari produksinya terbesar di dunia dari sisi organik dan di Asia tentu saja nomor satu.

“Artinya, kopi Gayo sudah mendapatkan tempat di masyarakat dunia internasional namun belum dioptimalkan baik dari sisi perdgangan, politik internasional, maupun pemanfaatan dari lingkungan.

Dan yang menjadi tantangan ke depan adalah situasi lingkungan dimana isu yang berkembang hari ini di Gayo, bahwa Gayo mau dijadikan area pertambangan. Hal ini menjadi ancaman kepada masyarakat perkopian, karena dikhawatirkan ketika pertambangan terjadi, maka kopi Gayo akan punah. Karena secara otomatis akan terjadi perubahan lingkungan ketika Gayo dijadikan area pertambangan.” Ungkap Bung Zamzam.

Menurut Zamzam, saat ini sedang disiapkan pengembangan pola usaha skala kecil yaitu pola usaha 1000 Gerobak Kopi. Pengembangan franchise kopi ini sebenarnya menjadi kebutuhan sekaligus strategi nasional, kita bisa kurangi ekspor dan konsumsi dalam negeri bisa kita tingkatkan. Penyajian kopi specialty kita sajikan kepada rakyat Indonesia yang masih ngopi sasetan, artinya kopi ini yang belum premium.

“Nah konsep usahanya, konsep usaha kopi premium namun harganya merakyat. Untuk itu yang sudah kita jalankan salah satu konsepnya Gerobak Kopi. Supaya persepsi masyarakat bahwa ngopi enak itu murah dan terjangkau, maka konsep merakyat itu kita sebut Gerobak Kopi. Nah untuk pengembangn ini, kita akan memberikan pelatihan-pelatihan barista kepada anak muda, sekaligus kita akan memberikan edukasi kopi dari hulu ke hilir,” tutur Zamzam.
Dan pengembangan selanjutnya bahwa kopi bukan hanya untuk diminum, namun kopi bisa dimakan.

Ini konsep kopi kuliner dimana kopi bisa dimakan, ini misalnya nanti diturunkan dalam bentuk produk seperti bolu kopi, dll. Dengan melihat konsumen yang terus meningkat di nasional, kebutuhan gerai-gerai kopi ini sangat diperlukan dan ini sedang kita siapkan formulanya.

Artinya kita sedang menyiapkan pengembangan franchise sekaligus bekerjasama dengan lembaga keuangan untuk memberikan modal usaha khususnya kepada generasi muda. Makanya kita ingin mematangkan konsep kopi dari hulu ke hilir supaya ada nilai tambah sekaligus bisa membuka lapangan pekerjaan kepada generasi muda khususnya, dan kepada rakyat Indonesia pada umumnya.

“Paket Gerobak Kopi ini sangat ekonomis, sangat murah, dengan bermodalkan 15 juta sampai dengan 25 juta mereka sudah bisa mendapatkan usaha, dan ini butuh kerjasama dengan semua pihak terutama pihak yang konsern pada pergerakan ekonomi kerakyatan. Mungkin dlm beberapa bulan ke depan kita akan launching paket Gerobak Kopi ini.” Tutu Zamzam mengakhiri pembicaraan dengan redaksi mandatrakyat.com melalui telpon.

Dadung Hari Setyo selaku Ketua Umum KUP SUTA Nusantara berharap program-program perkopian di SUTA Nusantara bisa meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat, sehingga masyarakat merasa yakin, percaya, dan memiliki semangat dan kegairahan dalam mengembangkan usaha kopi di daerahnya masing-masing. Menurutnya SUTA sedang menyiapkan rumusan pola permodalan/investasi dengan pihak ketiga melalui sistem kemitraan yang nantinya akan disinergikan kepada sahabat-sahabat SUTA Nusantara di daerah-daerah.

“Sahabat kita Bung Zamzam Mubarok ini salah satu pelopor yang kreatif dan produktif dalam mengembangkan usaha perkopian. Sudah banyak yang dicapai dan diwujudkan oleh beliau sebagai pelopor perkopian dari Aceh, semoga apa yang dilakukan oleh beliau ini bisa dibagi pengetahuan dan skillnya, sehingga bisa mengangkat harkat dan kesejahteraan msyarakat petani kopi dan usaha-usaha perkopian di nusantara.” Pungkas Ketua Umum SUTA Nusantara dalam wawancara singkatnya melalui sambungan telpon dengan redaksi mandatrakyat.com pada Rabu (22/5/2019).[Sud]

Share.

About Author

Leave A Reply