BANGUNAN SUATU NEGARA BERAKAR PADA MASYARAKAT ADAT

0

mandatrakyat.com – Ngopi, Ngobrol santai penuh inspirasi ketiga pada Jumat malam (19/6/2020) lalu mengambil tema “Spesifikasi Bentuk dan Jenis Usaha Masyarakat Adat Nusantara.” Dalam sesi ini hadir narasumber dari 7 (tujuh) Provinsi. Ada Dadung Hari Setyo selaku Ketua Umum KUP SUTA Nusantara dari Jatim, Thobroni dari Sumsel selaku Ketua Bakorwil KUP SUTA Nusantara OKI Raya, Martinus Warimon sebagai Ketua Pimwil KUP SUTA Nusantara Papua yang juga Sekretaris Dewan Adat Papua. Ada juga Setu Alberto Emanuel dari Gapensi yang juga Pembina KUP SUTA Nusantara dari NTT, Hermanto selaku Ketua Pimwil KUP SUTA Nusantara Kalimantan Barat, Nurmansyah sebagai Ketua Pimwil KUP SUTA Nusantara Sulawesi Tengah, dan H. Ka’ab Al-Ahbar selaku Panglima Kesultanan Ternate, Maluku. Dalam obrolan santai yang menarik ini turut urun gagasan juga Bang Fauzi Aly selaku Waketum KUP SUTA Nusantara dari Aceh., Kang Ajat dari Purwakarta,dll.

“Mengungkap spesifikasi bentuk-bentuk dan jenis-jenis usaha masyarakat adat yang ada di berbagai daerah menjadi sesuatu yang penting. Supaya kita mengetahui bentuk dan jenis-jenis usaha masyarakat adat yang ada seperti apa dan bagaimana pola-pola yang sudah diterapkan. Darai data itu nanti kita bisa memetakannya, sehingga kehadiran Perbumma Adat Nusantara nantinya tepat dan bergerak ke arah peningkatan usaha dan kesejahteraan bagi masyarakat adat nusantara,“ Tutur Dadung Hari Setyo, Ketum KUP SUTA Nusantara dalam prolognya.

Dari obrolan santai kurang lebih dua jam setengah itu, selain teridentifikasinya bentuk dan jenis usaha masyarakat adat di berbagai daerah, terungkap juga bagaimana masyarakat adat selama ini mengemas dan menjalankan beragam jenis usaha yang ada di tengah-tengah mereka. Rata-rata usaha masyarakat adat yang ada saat ini masih dikelola secara mandiri dan parsial dan dengan kemasan yang masih sangat sederhana.

Menurut Martinus Warimon, tanah Papua adalah milik masyarakat adat Papua. Karena itu seharusnya segala jenis usaha apapun di atasnya memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat adat di Papu, namun sepertinya perlu sentuhan pendekatan dari Perbumma nantinya. “usaha-usaha masyarakat adat di Papua selama ini masih dikelola masing-masing sesuai jenisnya. Kehadiran Perkumpulan Badan Usaha Milik Masyarakat (Perbumma) Adat Nusantara ini benar-benar dinanti dan dibutuhkan, agar usaha-usaha milik masyarakat adat yang selama ini dikelola secara masing-masing di Papua bisa dijalankan dengan pendekatan dan pola dari Perbumma Adat Nusantara. Dengan begitu, upaya percepatan dalam pemberdayaan dan peningkatan kapabilitas masyarakat adat yang tentunya mengarah pada kesejahteraan masyarakat adat di Papua bisa segera diwujudkan.” Jelas Martinus di antara beberapa paparan tentang kondisi Papua dan masyarakat adat serta hubungannya dengan dunia usaha dan negara.

Tak berbeda jauh dengan Papua, Setu Alberto dari NTT yang dijuluki seribu rumah adat juga menyampaikan tentang pola pengelolaan usaha dan jenis milik masyarakat adat di Provinsi NTT yang masih sendiri-sendiri memang membutuhkan kehadiran Perbumma Adat Nusantara. “Beragam jenis usaha masyarakat adat di NTT baik di sektor pertanian seperti kopi, dan lainnya maupun peternakan dan hasil laut yang selama ini masih dikelola secara sederhana dan terpisah-pisah akan lebih pesat dan berkembang jika Perbumma Adat Nusantara dengan konsepnya bisa menyentuhnya. Di samping itu, di NTT yang dijuluki seribu rumah adat mempunyai struktur rumah adat yang unik karena memiliki struktur semacam lumbung atau tempat penyimpanan hasil tani di dalamnya secara nilai dan filosofis juga bisa masuk ke sektor pariwisata edukatif yang bisa dikembangkan oleh Perbumma Adat Nusasntara,” tutur Setu Alberto dalam penyampaiannya.

“Pemikiran dan Konsepsi yang dibangun oleh Perbumma Adat Nusantara ini luar biasa dalam mengangkat masyarakat adat. Karena kita semua menyadari bahwa bangunan suatu negara maupun pemerintahan itu berakar pada masyarakat adat. Masyarakat adat inilah yang melahirkan kerajaan-kerajaan maupun pemerintahan-pemerintahan yang ada hingga sekarang.” Sambung Setu Alberto.

Mencermati hal tersebut, seluruh narasumber dan peserta yang hadir dalam ngopi ketiga tersebut memandang kehadiran Perkumpulan Badan Usaha Milik Masyarakat (Perbumma) Adat Nusantara benar-benar menjadi harapan bagi kebangkitan ekonomi masyarakat adat nusantara. Perbumma Adat Nusantara juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan masyarakat adat dalam mengemas usahanya lebih baik sesuai kekinian tanpa meninggalkan identitas adatnya. (rsy).

Share.

About Author

Leave A Reply